Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label umum. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Juni 2012

ISLAM DAN LIBERAL



Islam dan Liberalisme bukan hal yang asing lagi bagi kita. Apa sih korelasi keduanya? sebelum kita bahas hal tersebut, mari kita pahami dulu definisi keduanya. Islam adalah Agama (Ad-Dien) yang diturunkan oleh Allah swt, sang Pencipta, kepada utusan terakhir-Nya Muhammad Saw. Secara lughawi, bermakna “pasrah”, yaitu tunduk kepada Allah dan terikat dengan hukum-hukum yang dibawa Nabi Muhamad Saw. Agama ini berisikan seluruh ajaran dan panduan hidup manusia di dunia. Panduan ini bersifat lengkap untuk kesejahteraan seluruh manusia. Panduan bagaimana manusia berhubungan dengan Penciptanya, yaitu Allah swt. Panduan, bagaimana manusia harus berhubungan dengan manusia lainnya, serta panduan bagaimana manusia berhubungan dengan dirinya sendiri. Seluruh panduan dalam Islam berasal dari Allah swt, yang mutlak kebenarannya. Berisi perintah dan anjuran, begitu pula larangan dan cegahan, serta pilihan yang diserahkan kepada manusia untuk bebas memilihnya.

Sedangkan, Liberal adalah satu istilah asing yang diambil dari kata Liberalism dalam bahasa Inggris dan liberalisme dalam bahasa perancis yang berarti kebebasan. Kata ini kembali kepada kata Liberty dalam bahasa Inggrisnya dan Liberte dalam bahasa prancisnya yang bermakna bebas. Jadi, liberalisme adalah sebuah ajaran tentang kebebasan.  Yaitu suatu paham yang berkembang di Barat dan memiliki asumsi, teori dan pandangan hidup yang berbeda.

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Islam dan Liberal adalah dua istilah yang berlawanan, saling berhadap-hadapan dan mungkin tidak bisa bertemu. Namun demikian masih tetap ada sekelompok orang khususnya di Indonesia yang rela menamakan dirinya dengan Jaringan Islam Liberal (JIL). Hal ini menunjukan bahwa orang-orang tersebut tetap menganggap Islam dan Liberaslisme sebagai 2 hal yang tetap dapat disatukan.

Syeikh Sulaiman al-Khirasyi menyimpulkan bahwa Liberalisme adalah pemikiran yang memperhatikan kebebasan individu dan memandang kewajiban menghormati kemerdekaan individu serta berkeyakinan bahwa tugas pokok pemerintah adalah menjaga dan melindungi kebebasan rakyat, seperti kebebasan berfikir, mengungkapkan pendapat, kepemilikan pribadi dan kebebasan individu serta sejenisnya.

Ensiklopedia Inggris juga menuliskan: “Kata Liberty (kebebasan) adalah kata yang menyimpan kesamaran, demikian juga kata liberal. Seorang liberalis bisa jadi beriman bahwa kebebasan adalah masalah khusus individu semata dan peran negara harus terbatas atau bisa jadi beriman bahwa kebebasan itu adalah masalah khusus negara. Sehingga negara dengan kemampuannya atau kemungkinan menggunakannya sebagai alat penguat kebebasan”.

Nah....sudah paham kan arti keduanya... Sekarang yang menjadi masalah, apa sih yang menarik dari korelasi dua konsep ini???

Sejak masa klasik para pemikir Islam menghasilkan pemikiran-pemikiran yang menurut saya sangat liberal sekali. baik pemikiran yang diambil dari filsafat Yunani, sains Persia, maupun mistisme India.Islam sangatlah terbuka sekali dengan pemikiran yang bisa menghidupkan substansinya melalui cara pandang modern. Bagaimana Islam memandang dan merespon positif terhadap konsep demokrasi, hak asasi manusia, paham-paham kebebasan, seperti kebebasan beragama, dll. Buku yang saya rujuk, Buku "Islam dan Liberalisme" oleh Budhy Munawar-Rachman (dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara) ini menggambarkan jelas tentang bagaimana NU dan Muhammadiyah memandang Liberal di Indonesia ini, bagaimana prinsip-prinsip etis dan metodis islam liberal, kesetaraan gender sebagai misi dari Islam liberal, dan sebagainya.

Ada dua pandangan terkait Islam dan Liberalisme ini, Pertama, pandangan yang menilai bahwa Islam merupakan bagian dari liberalisme (subset of liberalism). Pandangan ini diwakili oleh Leonard Binder lewat bukuya Islamic Liberalism. Paradigma ini berupaya melihat secara terbuka dialog antara Islam dengan barat dan membiarkannya berdialektika secara take and give, termasuk dengan tradisi lokal arab.


Pandangan kedua, yang diwakili Charles Kurzman, berpendapat sebaliknya, bahwa liberalisme sebagai bagian dari Islam (subset of Islam). Paradigma Kurzman ini ingin mengatakan bahwa pemikiran-pemikiran yang diasumsikan liberal itu juga masih berada dalam sinaran tradisi Islam (to examine liberal muslim in light of Islamic tradition). Dengan kata lain, jika mazhab Binder ingin melihat seberapa liberalkah kaum muslim liberal, sedangkan mazhab Curzman ingin melihat apakah pemikiran liberal itu masih berada dalam konteks islami atau tidak. 

Dengan begitu, Islam liberal dalam posisi ini dihadapkan dengan dua lawan sekaligus, Islam adat (customary Islam) dan Islam puritan (revivalist Islam). Terhadap Islam adat, Islam liberal mengontraskan dirinya dengan menilai bahwa telah terjadi percampuradukan antara dua tradisi Islam, tradisi besar dan tradisi kecil. Karena itu, Islam adat dalam pandangan liberal tidak lagi orisinil. Demikian, karena ia terlalu banyak berkompromi dengan budaya lokal, sehingga menjadi Islam – meminjam bahasa Moqsith Ghazali – yang mengalami obesitas. 


Dalam buku ini memetakan kembali pemikiran Islam liberal dalam enam kategori. Pertama, melawan gagasan negara Islam dan variannya. Kedua, mendukung gagasan demokrasi. Ketiga, membela keadilan gender dan hak-hak perempuan. Keempat, mempromosikan pluralisme dan hak-hak minoritas. Kelima, membela kebebasan berpikir, dan keenam, membela gagasan kemajuan. 
 

 
    
 







Sumber: Munawar, Budhy. Islam dan Liberalisme. 2001. Jakarta Selatan: Friedrich Naumann Stiftung
            Husaini, Adian. Islam Liberal. 2000. Jakarta: Gema Insani